What's New Here?

    MENGHADAPI UJIAN: Menguji Diri Sendiri

    Baca: Yakobus 1:2-8


    "sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan." Yakobus 1:3


    Semua orang pasti tidak suka mendengar kata ujian, masalah atau pergumulan. Umumnya kita lebih suka mendengar kata-kata tentang berkat, mujizat, kemenangan dan perkara-perkara besar lainnya, karena hal-hal itulah yang sedang dicari dan diinginkan oleh manusia. Namun kita lupa bahwa setiap berkat, mujizat, kemenangan, kesembuhan dan perkara-perkara besar selalu didahului dan diawali oleh ujian, masalah dan juga pergumulan yang tidak mudah. Namun justru di balik hal-hal yang tidak menyenangkan inilah terkandung berkat, mujizat dan kemenangan besar.


    Kata ujian memiliki arti sesuatu yang dipakai untuk menguji kualitas sesuatu, misal kepandaian, kemampuan, hasil belajar dari seseorang. Karena itu dalam dunia pendidikan ada yang namanya ujian akhir yaitu ujian untuk menentukan kenaikan tingkat atau kelulusan seorang siswa; ada pula ujian masuk perguruan tinggi negeri yaitu ujian memasuki suatu universitas negeri. Bagi seorang siswa ujian adalah sesuatu yang tidak menyenangkan, menegangkan, tapi sangat menentukan, sebab di balik ujian pasti ada hasil; dan untuk mencapai hasil maksimal, yang sesuai dengan harapan dan keinginan, setiap siswa pasti akan mempersiapkan diri begitu rupa: ada yang rajin mengikuti try out; bagi yang berkantong tebal akan mengikuti bimbingan belajar atau memanggil guru private. Orang yang mampu menghadapi ujian dengan baik pasti mendapatkan hasil yang baik pula. Sebaliknya, yang tidak mempersiapkan diri dengan baik sedari awal, yang hanya belajar keras saat menjelang ujian dengan 'SKS' (sistem kebut semalam), akan mendapatkan hasil yang pasti tidak akan pernah maksimal, mengecewakan dan mungkin akan gagal.


    Jadi sebelum menghadapi ujian perlu sekali kita menguji diri sendiri terlebih dahulu, artinya mengukur dan menilai sejauh mana kesiapan kita dalam menghadapi ujian. Mungkin secara mental kita sudah siap, tapi ketika kita diuji ternyata banyak materi yang belum kita ketahui. Atau sebaliknya kita sudah tahu materi, tapi ketika ujian datang ternyata kita secara mental belum siap: panik, was-was, kuatir dan takut.


    "Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik." 1 Tesalonika 5:21


    Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 6 November 2014

    MENGHADAPI UJIAN: Menguji Diri Sendiri

    Posted by pakrifai alwan No comments

    Baca: Yakobus 1:2-8


    "sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan." Yakobus 1:3


    Semua orang pasti tidak suka mendengar kata ujian, masalah atau pergumulan. Umumnya kita lebih suka mendengar kata-kata tentang berkat, mujizat, kemenangan dan perkara-perkara besar lainnya, karena hal-hal itulah yang sedang dicari dan diinginkan oleh manusia. Namun kita lupa bahwa setiap berkat, mujizat, kemenangan, kesembuhan dan perkara-perkara besar selalu didahului dan diawali oleh ujian, masalah dan juga pergumulan yang tidak mudah. Namun justru di balik hal-hal yang tidak menyenangkan inilah terkandung berkat, mujizat dan kemenangan besar.


    Kata ujian memiliki arti sesuatu yang dipakai untuk menguji kualitas sesuatu, misal kepandaian, kemampuan, hasil belajar dari seseorang. Karena itu dalam dunia pendidikan ada yang namanya ujian akhir yaitu ujian untuk menentukan kenaikan tingkat atau kelulusan seorang siswa; ada pula ujian masuk perguruan tinggi negeri yaitu ujian memasuki suatu universitas negeri. Bagi seorang siswa ujian adalah sesuatu yang tidak menyenangkan, menegangkan, tapi sangat menentukan, sebab di balik ujian pasti ada hasil; dan untuk mencapai hasil maksimal, yang sesuai dengan harapan dan keinginan, setiap siswa pasti akan mempersiapkan diri begitu rupa: ada yang rajin mengikuti try out; bagi yang berkantong tebal akan mengikuti bimbingan belajar atau memanggil guru private. Orang yang mampu menghadapi ujian dengan baik pasti mendapatkan hasil yang baik pula. Sebaliknya, yang tidak mempersiapkan diri dengan baik sedari awal, yang hanya belajar keras saat menjelang ujian dengan 'SKS' (sistem kebut semalam), akan mendapatkan hasil yang pasti tidak akan pernah maksimal, mengecewakan dan mungkin akan gagal.


    Jadi sebelum menghadapi ujian perlu sekali kita menguji diri sendiri terlebih dahulu, artinya mengukur dan menilai sejauh mana kesiapan kita dalam menghadapi ujian. Mungkin secara mental kita sudah siap, tapi ketika kita diuji ternyata banyak materi yang belum kita ketahui. Atau sebaliknya kita sudah tahu materi, tapi ketika ujian datang ternyata kita secara mental belum siap: panik, was-was, kuatir dan takut.


    "Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik." 1 Tesalonika 5:21


    Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 6 November 2014

    Batu Kecil

    Seorang Pekerja pada proyek bangunan memanjat ke atas pohon yang sangat tinggi. Pada suatu saat ia harus menyampaikan pesan penting kepada teman kerjanya yang ada dibawahnya. Pekerja itu berteriak-teriak, tetapi temannya tidak bisa mendengarnya karena suara bising dari mesin-mesin dan orang-orang yang bekerja, sehingga usahanya sia-sia.

    Oleh karena itu untuk menarik perhatian orang yang ada dibawahnya, ia mencoba melemparkan uang logam di depan temannya. Temannya berhenti bekerja, mengambil uang itu lalu bekerja kembali. Pekerja itu mencoba lagi, tetapi usahanya yang kedua pun memperoleh hasil yang sama.

    Tiba-tiba dia mendapatkan ide. Ia mengambil batu kecil lalu melemparkan ke arah orang itu. Batu itu tepat mengenai kepala temannya, dan karena merasa sakit temannya menengadah ke atas ? Sekarang pekerja itu dapat menjatuhkan catatan yang berisi pesannya.

    ***

    Allah kadang-kadang menggunakan cobaan-cobaan ringan untuk membuat kita menengadah kepada-Nya. Seringkali Allah melimpahin kita dengan rahmat, tetapi itu tidak cukup untuk membuat kita menengadah kepada-Nya. Karena itu, agar kita selalu mengingatkan kepada-Nya, Allah sering manjatuhkan "batu kecil" kepada kita.

    Oleh: Mizanul Ahkam
    Kiriman: Dian Juwita Sari
    Sumber: kotasantri.com

    Batu Kecil

    Posted by pakrifai alwan No comments

    Seorang Pekerja pada proyek bangunan memanjat ke atas pohon yang sangat tinggi. Pada suatu saat ia harus menyampaikan pesan penting kepada teman kerjanya yang ada dibawahnya. Pekerja itu berteriak-teriak, tetapi temannya tidak bisa mendengarnya karena suara bising dari mesin-mesin dan orang-orang yang bekerja, sehingga usahanya sia-sia.

    Oleh karena itu untuk menarik perhatian orang yang ada dibawahnya, ia mencoba melemparkan uang logam di depan temannya. Temannya berhenti bekerja, mengambil uang itu lalu bekerja kembali. Pekerja itu mencoba lagi, tetapi usahanya yang kedua pun memperoleh hasil yang sama.

    Tiba-tiba dia mendapatkan ide. Ia mengambil batu kecil lalu melemparkan ke arah orang itu. Batu itu tepat mengenai kepala temannya, dan karena merasa sakit temannya menengadah ke atas ? Sekarang pekerja itu dapat menjatuhkan catatan yang berisi pesannya.

    ***

    Allah kadang-kadang menggunakan cobaan-cobaan ringan untuk membuat kita menengadah kepada-Nya. Seringkali Allah melimpahin kita dengan rahmat, tetapi itu tidak cukup untuk membuat kita menengadah kepada-Nya. Karena itu, agar kita selalu mengingatkan kepada-Nya, Allah sering manjatuhkan "batu kecil" kepada kita.

    Oleh: Mizanul Ahkam
    Kiriman: Dian Juwita Sari
    Sumber: kotasantri.com

    Analogi yg Mengagumkan

    Seorang konsumen datang ke tempat tukang cukur untuk memotong rambut merapikan brewoknya.

    Si tukang cukur mulai memotong rambut konsumennya dan mulailah terlibat pembicaraan yang mulai menghangat. Mereka membicarakan banyak hal dan berbagai variasi topik pembicaraan,dan sesaat topik pembicaraan beralih tentang Tuhan.

    Si tukang cukur bilang,"Saya tidak percaya Tuhan itu ada".

    "Kenapa kamu berkata begitu ???" timpal si konsumen.

    "Begini, coba Anda perhatikan di depan sana, di jalanan.... untuk menyadari bahwa Tuhan itu tidak ada. Katakan kepadaku, jika Tuhan itu ada, Adakah yang sakit??, Adakah anak terlantar?? Jika Tuhan ada, tidak akan ada sakit ataupun kesusahan. Saya tidak dapat membayangkan Tuhan Yang Maha Penyayang akan membiarkan ini semua terjadi."

    Si konsumen diam untuk berpikir sejenak, tapi tidak merespon karena dia tidak ingin memulai adu pendapat.

    Si tukang cukur menyelesaikan pekerjaannya dan si konsumen pergi meninggalkan tempat si tukang cukur.Beberapa saat setelah dia meninggalkan ruangan itu dia melihat ada orang di jalan dengan rambut yang panjang, berombak kasar mlungker-mlungker- istilah jawa-nya", kotor dan brewok yang tidak dicukur. Orang itu terlihat kotor dan tidak terawat.

    Si konsumen balik ke tempat tukang cukur dan berkata," Kamu tahu, sebenarnya TIDAK ADA TUKANG CUKUR."

    Si tukang cukur tidak terima," Kamu kok bisa bilang begitu ??".

    "Saya disini dan saya tukang cukur. Dan barusan saya mencukurmu!"

    "Tidak!" elak si konsumen.

    "Tukang cukur itu tidak ada, sebab jika ada, tidak akan ada orang dengan rambut panjang yang kotor dan brewokan seperti orang yang di luar sana", si konsumen menambahkan.

    "Ah tidak, tapi tukang cukur tetap ada!", sanggah si tukang cukur.

    " Apa yang kamu lihat itu adalah salah mereka sendiri, kenapa mereka tidak datang ke saya", jawab si tukang cukur membela diri.

    "Cocok!" kata si konsumen menyetujui." Itulah point utama-nya!. Sama dengan Tuhan, TUHAN ITU JUGA ADA !, Tapi apa yang terjadi... orang-orang TIDAK MAU DATANG kepada-NYA, dan TIDAK MAU MENCARI-NYA. Oleh karena itu banyak yang sakit dan tertimpa kesusahan di dunia ini."

    Si tukang cukur terbengong !!!!

    Analogi yg Mengagumkan

    Posted by pakrifai alwan No comments

    Seorang konsumen datang ke tempat tukang cukur untuk memotong rambut merapikan brewoknya.

    Si tukang cukur mulai memotong rambut konsumennya dan mulailah terlibat pembicaraan yang mulai menghangat. Mereka membicarakan banyak hal dan berbagai variasi topik pembicaraan,dan sesaat topik pembicaraan beralih tentang Tuhan.

    Si tukang cukur bilang,"Saya tidak percaya Tuhan itu ada".

    "Kenapa kamu berkata begitu ???" timpal si konsumen.

    "Begini, coba Anda perhatikan di depan sana, di jalanan.... untuk menyadari bahwa Tuhan itu tidak ada. Katakan kepadaku, jika Tuhan itu ada, Adakah yang sakit??, Adakah anak terlantar?? Jika Tuhan ada, tidak akan ada sakit ataupun kesusahan. Saya tidak dapat membayangkan Tuhan Yang Maha Penyayang akan membiarkan ini semua terjadi."

    Si konsumen diam untuk berpikir sejenak, tapi tidak merespon karena dia tidak ingin memulai adu pendapat.

    Si tukang cukur menyelesaikan pekerjaannya dan si konsumen pergi meninggalkan tempat si tukang cukur.Beberapa saat setelah dia meninggalkan ruangan itu dia melihat ada orang di jalan dengan rambut yang panjang, berombak kasar mlungker-mlungker- istilah jawa-nya", kotor dan brewok yang tidak dicukur. Orang itu terlihat kotor dan tidak terawat.

    Si konsumen balik ke tempat tukang cukur dan berkata," Kamu tahu, sebenarnya TIDAK ADA TUKANG CUKUR."

    Si tukang cukur tidak terima," Kamu kok bisa bilang begitu ??".

    "Saya disini dan saya tukang cukur. Dan barusan saya mencukurmu!"

    "Tidak!" elak si konsumen.

    "Tukang cukur itu tidak ada, sebab jika ada, tidak akan ada orang dengan rambut panjang yang kotor dan brewokan seperti orang yang di luar sana", si konsumen menambahkan.

    "Ah tidak, tapi tukang cukur tetap ada!", sanggah si tukang cukur.

    " Apa yang kamu lihat itu adalah salah mereka sendiri, kenapa mereka tidak datang ke saya", jawab si tukang cukur membela diri.

    "Cocok!" kata si konsumen menyetujui." Itulah point utama-nya!. Sama dengan Tuhan, TUHAN ITU JUGA ADA !, Tapi apa yang terjadi... orang-orang TIDAK MAU DATANG kepada-NYA, dan TIDAK MAU MENCARI-NYA. Oleh karena itu banyak yang sakit dan tertimpa kesusahan di dunia ini."

    Si tukang cukur terbengong !!!!

    Apakah Tuhan Menciptakan Kejahatan??

    Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada? Apakah kejahatan itu ada? Apakah Tuhan menciptakan kejahatan? Seorang Profesor dari sebuah universitas terkenal menantang mahasiswa-mahasiswanya dengan pertanyaan ini, "Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada?".

    Seorang mahasiswa dengan berani menjawab, "Betul, Dia yang menciptakan semuanya". "Tuhan menciptakan semuanya?" Tanya professor sekali lagi. "Ya, Pak, semuanya" kata mahasiswa tersebut.

    Profesor itu menjawab, "Jika Tuhan menciptakan segalanya, berarti Tuhan menciptakan Kejahatan. Karena kejahatan itu ada, dan menurut prinsip kita bahwa pekerjaan kita menjelaskan siapa kita, jadi kita bisa berasumsi bahwa Tuhan itu adalah kejahatan."

    Mahasiswa itu terdiam dan tidak bisa menjawab hipotesis professor tersebut. Profesor itu merasa menang dan menyombongkan diri bahwa sekali lagi dia telah membuktikan kalau agama itu adalah sebuah mitos.

    Mahasiswa lain mengangkat tangan dan berkata, "Profesor, boleh saya bertanya sesuatu?"

    "Tentu saja," jawab si Profesor

    Mahasiswa itu berdiri dan bertanya, "Profesor, apakah dingin itu ada?" "Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja dingin itu ada. Kamu tidak pernah sakit flu?" Tanya si professor diiringi tawa mahasiswa lainnya.

    Mahasiswa itu menjawab, "Kenyataannya, Pak, dingin itu tidak ada. Menurut hukum fisika, yang kita anggap dingin itu adalah ketiadaan panas. Suhu -460F adalah ketiadaan panas sama sekali. Dan semua partikel menjadi diam dan tidak bisa bereaksi pada suhu tersebut. Kita menciptakan kata dingin untuk mendeskripsikan ketiadaan panas.

    Mahasiswa itu melanjutkan, "Profesor, apakah gelap itu ada?"

    Profesor itu menjawab, "Tentu saja itu ada."

    Mahasiswa itu menjawab, "Sekali lagi anda salah, Pak. Gelap itu juga tidak ada. Gelap adalah keadaan dimana tidak ada cahaya. Cahaya bisa kita pelajari, gelap tidak. Kita bisa menggunakan prisma Newton untuk memecahkan cahaya menjadi beberapa warna dan mempelajari berbagai panjang gelombang setiap warna. Tapi Anda tidak bisa mengukur gelap. Seberapa gelap suatu ruangan diukur dengan berapa intensitas cahaya di ruangan tersebut. Kata gelap dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan cahaya."

    Akhirnya mahasiswa itu bertanya, "Profesor, apakah kejahatan itu ada?"

    Dengan bimbang professor itu menjawab, "Tentu saja, seperti yang telah kukatakan sebelumnya. Kita melihat setiap hari di Koran dan TV. Banyak perkara kriminal dan kekerasan di antara manusia. Perkara-perkara tersebut adalah manifestasi dari kejahatan."

    Terhadap pernyataan ini mahasiswa itu menjawab, "Sekali lagi Anda salah, Pak. Kajahatan itu tidak ada. Kejahatan adalah ketiadaan Tuhan. Seperti dingin atau gelap, kajahatan adalah kata yang dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan Tuhan. Tuhan tidak menciptakan kajahatan. ajahatan adalah hasil dari tidak adanya kasih Tuhan dihati manusia. Seperti dingin yang timbul dari ketiadaan panas dan gelap yang timbul dari ketiadaan cahaya."

    Profesor itu terdiam.

    Nama mahasiswa itu adalah Albert Einstein.

    Kiriman: Herlina Indrawati

    Apakah Tuhan Menciptakan Kejahatan??

    Posted by pakrifai alwan No comments

    Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada? Apakah kejahatan itu ada? Apakah Tuhan menciptakan kejahatan? Seorang Profesor dari sebuah universitas terkenal menantang mahasiswa-mahasiswanya dengan pertanyaan ini, "Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada?".

    Seorang mahasiswa dengan berani menjawab, "Betul, Dia yang menciptakan semuanya". "Tuhan menciptakan semuanya?" Tanya professor sekali lagi. "Ya, Pak, semuanya" kata mahasiswa tersebut.

    Profesor itu menjawab, "Jika Tuhan menciptakan segalanya, berarti Tuhan menciptakan Kejahatan. Karena kejahatan itu ada, dan menurut prinsip kita bahwa pekerjaan kita menjelaskan siapa kita, jadi kita bisa berasumsi bahwa Tuhan itu adalah kejahatan."

    Mahasiswa itu terdiam dan tidak bisa menjawab hipotesis professor tersebut. Profesor itu merasa menang dan menyombongkan diri bahwa sekali lagi dia telah membuktikan kalau agama itu adalah sebuah mitos.

    Mahasiswa lain mengangkat tangan dan berkata, "Profesor, boleh saya bertanya sesuatu?"

    "Tentu saja," jawab si Profesor

    Mahasiswa itu berdiri dan bertanya, "Profesor, apakah dingin itu ada?" "Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja dingin itu ada. Kamu tidak pernah sakit flu?" Tanya si professor diiringi tawa mahasiswa lainnya.

    Mahasiswa itu menjawab, "Kenyataannya, Pak, dingin itu tidak ada. Menurut hukum fisika, yang kita anggap dingin itu adalah ketiadaan panas. Suhu -460F adalah ketiadaan panas sama sekali. Dan semua partikel menjadi diam dan tidak bisa bereaksi pada suhu tersebut. Kita menciptakan kata dingin untuk mendeskripsikan ketiadaan panas.

    Mahasiswa itu melanjutkan, "Profesor, apakah gelap itu ada?"

    Profesor itu menjawab, "Tentu saja itu ada."

    Mahasiswa itu menjawab, "Sekali lagi anda salah, Pak. Gelap itu juga tidak ada. Gelap adalah keadaan dimana tidak ada cahaya. Cahaya bisa kita pelajari, gelap tidak. Kita bisa menggunakan prisma Newton untuk memecahkan cahaya menjadi beberapa warna dan mempelajari berbagai panjang gelombang setiap warna. Tapi Anda tidak bisa mengukur gelap. Seberapa gelap suatu ruangan diukur dengan berapa intensitas cahaya di ruangan tersebut. Kata gelap dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan cahaya."

    Akhirnya mahasiswa itu bertanya, "Profesor, apakah kejahatan itu ada?"

    Dengan bimbang professor itu menjawab, "Tentu saja, seperti yang telah kukatakan sebelumnya. Kita melihat setiap hari di Koran dan TV. Banyak perkara kriminal dan kekerasan di antara manusia. Perkara-perkara tersebut adalah manifestasi dari kejahatan."

    Terhadap pernyataan ini mahasiswa itu menjawab, "Sekali lagi Anda salah, Pak. Kajahatan itu tidak ada. Kejahatan adalah ketiadaan Tuhan. Seperti dingin atau gelap, kajahatan adalah kata yang dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan Tuhan. Tuhan tidak menciptakan kajahatan. ajahatan adalah hasil dari tidak adanya kasih Tuhan dihati manusia. Seperti dingin yang timbul dari ketiadaan panas dan gelap yang timbul dari ketiadaan cahaya."

    Profesor itu terdiam.

    Nama mahasiswa itu adalah Albert Einstein.

    Kiriman: Herlina Indrawati

    Aku Sudah Bertobat

    Hari Kamis, 25 Desember 2003 lalu, aku melihat kuasa sebuah doa. Doa selama bertahun-tahun akhirnya berakhir dengan kata yang tak terucapkan, aku hanya bisa tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepala atas perbuatan Tuhan yang ajaib.

    Aku punya seorang abang, anak dari kakak mama. Dia dua tahun lebih tua dariku. Abangku ini berkulit hitam dan tinggal di Riau, Pekan Baru. Ia datang ke Jakarta untuk kuliah di ITI (Institut Teknologi Indonesia) di Serpong. Sejauh yang aku kenal, dia adalah pemuda yang keras, cuek, dan bersikap masa bodoh terhadap orang tua. Hidupnya jauh dari Tuhan dan hidup seenaknya sendiri.

    Berulang kali ia membuat masalah yang membuat orang tuanya putus asa sehingga meminta aku dan kedua adikku untuk mendoakannya. "Doakan abangmu itu. Biar dia berubah," kata Mak Tuaku berulang kali di berbagai kesempatan.

    Dia paling anti dengan kata-kata Tuhan, pelayanan, gereja, dan sebagainya. Dia menunjukkan sikap tidak percaya kalau Tuhan itu benar-benar masih bekerja di bumi ini. Beberapa kali kami beribadah di gereja Duta Injil, dia memilih keluar tidak mendengarkan khotbah. Dia merasa tempatnya bukan di situ. Setelah khotbah selesai atau kebaktian hampir selesai, dia kembali ke tempat duduknya.

    Aku bertanya kepada Tuhan, "Tuhan, apa yang harus kulakukan?" Setiap bertemu dengannya aku berdoa singkat, "Tuhan, jamah hidupnya." Satu kalimat pendek yang juga kuperkatakan buat teman-temanku yang lain, yang masih terhilang dan hidup dengan kekuatannya sendiri, kecewa terhadap diri sendiri, orang tua dan Tuhan.

    Mereka menyalahkan Tuhan atas semua yang telah terjadi. Kalaupun mereka sudah bangkit dan memulai lembaran baru dalam hidup mereka, masa lalu yang hitam itu tidak pernah hilang dalam ingatan mereka.

    Kamis sore itu, selama beberapa jam di rumahku, kami ngobrol banyak hal. Inilah untuk pertama kalinya aku dan dia benar-benar 'nyambung' baik secara fisik maupun roh. Dia yang dulu keras kini sudah menunjukkan sikap yang rendah hati. Kalimatnya bermakna dan tidak lagi ketus. Dia berbeda sekali. Di meja makan itu aku menikmati perubahan yang terjadi dalam hidupnya.

    Selama setahun dia menganggur. Selama setahun itu pulalah Tuhan menghajar dia dan membentuk dia. Ratusan lowongan sudah dicarinya tetapi tidak ada satupun yang medatangkan hasil. Di tengah-tengah situasi itu, Tuhan menjadi nyata dalam hidupnya.

    Belakangan dia terlibat di CBN (Cahaya Bagi Negeri) sebagai part-time engineering. Di sana dia 'terpaksa' mengikuti ibadah pagi setiap hari sebelum jam kerja. Sekarang dia sering mengunakan kata 'Kristus', 'Tuhan', dan segala perkataan rohani yang membuatku cuma senyum-senyum sendiri. "Tuhan itu memang luar biasa. Dia sanggup mengubah hati siapa saja," kataku dalam hati.

    Aku bersukacita karena perbuatan Tuhan yang luar biasa dalam hidupnya. Hanya Tuhan yang bisa merubah hidup seseorang. Melalui doa yang tiada putus-putusnya kita melihat Tuhan menyatakan kuasa-Nya.

    Hari Jumat siang, aku, adikku, mama, dan abangku pergi ke Mall Ambassador. Kebetulan abangku ini kos di belakang mal itu. Dalam perjalanan kami ke Carrefour, aku melihat hal kecil yang bermakna dalam buatku. Kini, abangku dengan bangga menenteng Alkitab kecil di tanggannya di antara keramaian di Pasar Serba Ada itu. Dulu dia jarang sekali membawa Alkitab, tetapi kini, dia merasa bangga dengan Alkitab di tangannya itu. Ketika disinggung soal Alkitab di tangannya itu, dia berkata sambil tersenyum, "Aku sudah bertobat."

    Puji syukur kepada Allah yang sanggup melakukan banyak perkara yang ajaib. Puji syukur kepada Tuhan kita Yesus Kristus yang oleh kekayaan rahmat-Nya melimpahkan kita segala sesuatu yang kita perlukan untuk hidup berkenan di hadapan-Nya. Puji syukur kepada Tuhan buat kesetiaan-Nya bagi mereka yang menanti-nantikan Dia. Kau luar biasa Tuhan! Kau dahsyat! Kau mengagumkan! YOU ARE AMAZING!

    Kiriman: Ita Yanti

    Aku Sudah Bertobat

    Posted by pakrifai alwan No comments

    Hari Kamis, 25 Desember 2003 lalu, aku melihat kuasa sebuah doa. Doa selama bertahun-tahun akhirnya berakhir dengan kata yang tak terucapkan, aku hanya bisa tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepala atas perbuatan Tuhan yang ajaib.

    Aku punya seorang abang, anak dari kakak mama. Dia dua tahun lebih tua dariku. Abangku ini berkulit hitam dan tinggal di Riau, Pekan Baru. Ia datang ke Jakarta untuk kuliah di ITI (Institut Teknologi Indonesia) di Serpong. Sejauh yang aku kenal, dia adalah pemuda yang keras, cuek, dan bersikap masa bodoh terhadap orang tua. Hidupnya jauh dari Tuhan dan hidup seenaknya sendiri.

    Berulang kali ia membuat masalah yang membuat orang tuanya putus asa sehingga meminta aku dan kedua adikku untuk mendoakannya. "Doakan abangmu itu. Biar dia berubah," kata Mak Tuaku berulang kali di berbagai kesempatan.

    Dia paling anti dengan kata-kata Tuhan, pelayanan, gereja, dan sebagainya. Dia menunjukkan sikap tidak percaya kalau Tuhan itu benar-benar masih bekerja di bumi ini. Beberapa kali kami beribadah di gereja Duta Injil, dia memilih keluar tidak mendengarkan khotbah. Dia merasa tempatnya bukan di situ. Setelah khotbah selesai atau kebaktian hampir selesai, dia kembali ke tempat duduknya.

    Aku bertanya kepada Tuhan, "Tuhan, apa yang harus kulakukan?" Setiap bertemu dengannya aku berdoa singkat, "Tuhan, jamah hidupnya." Satu kalimat pendek yang juga kuperkatakan buat teman-temanku yang lain, yang masih terhilang dan hidup dengan kekuatannya sendiri, kecewa terhadap diri sendiri, orang tua dan Tuhan.

    Mereka menyalahkan Tuhan atas semua yang telah terjadi. Kalaupun mereka sudah bangkit dan memulai lembaran baru dalam hidup mereka, masa lalu yang hitam itu tidak pernah hilang dalam ingatan mereka.

    Kamis sore itu, selama beberapa jam di rumahku, kami ngobrol banyak hal. Inilah untuk pertama kalinya aku dan dia benar-benar 'nyambung' baik secara fisik maupun roh. Dia yang dulu keras kini sudah menunjukkan sikap yang rendah hati. Kalimatnya bermakna dan tidak lagi ketus. Dia berbeda sekali. Di meja makan itu aku menikmati perubahan yang terjadi dalam hidupnya.

    Selama setahun dia menganggur. Selama setahun itu pulalah Tuhan menghajar dia dan membentuk dia. Ratusan lowongan sudah dicarinya tetapi tidak ada satupun yang medatangkan hasil. Di tengah-tengah situasi itu, Tuhan menjadi nyata dalam hidupnya.

    Belakangan dia terlibat di CBN (Cahaya Bagi Negeri) sebagai part-time engineering. Di sana dia 'terpaksa' mengikuti ibadah pagi setiap hari sebelum jam kerja. Sekarang dia sering mengunakan kata 'Kristus', 'Tuhan', dan segala perkataan rohani yang membuatku cuma senyum-senyum sendiri. "Tuhan itu memang luar biasa. Dia sanggup mengubah hati siapa saja," kataku dalam hati.

    Aku bersukacita karena perbuatan Tuhan yang luar biasa dalam hidupnya. Hanya Tuhan yang bisa merubah hidup seseorang. Melalui doa yang tiada putus-putusnya kita melihat Tuhan menyatakan kuasa-Nya.

    Hari Jumat siang, aku, adikku, mama, dan abangku pergi ke Mall Ambassador. Kebetulan abangku ini kos di belakang mal itu. Dalam perjalanan kami ke Carrefour, aku melihat hal kecil yang bermakna dalam buatku. Kini, abangku dengan bangga menenteng Alkitab kecil di tanggannya di antara keramaian di Pasar Serba Ada itu. Dulu dia jarang sekali membawa Alkitab, tetapi kini, dia merasa bangga dengan Alkitab di tangannya itu. Ketika disinggung soal Alkitab di tangannya itu, dia berkata sambil tersenyum, "Aku sudah bertobat."

    Puji syukur kepada Allah yang sanggup melakukan banyak perkara yang ajaib. Puji syukur kepada Tuhan kita Yesus Kristus yang oleh kekayaan rahmat-Nya melimpahkan kita segala sesuatu yang kita perlukan untuk hidup berkenan di hadapan-Nya. Puji syukur kepada Tuhan buat kesetiaan-Nya bagi mereka yang menanti-nantikan Dia. Kau luar biasa Tuhan! Kau dahsyat! Kau mengagumkan! YOU ARE AMAZING!

    Kiriman: Ita Yanti

    Blogger templates. Proudly Powered by Blogger.
    back to top