What's New Here?

    Anda mungkin tidak percaya ini tapi nasehatnya luar biasa.
    Baca sampai habis, anda akan belajar sesuatu !!!
    • SATU. : Berikan mereka lebih dari yang mereka harapkan dan lakukan itu dengan senang hati.
    • DUA.  :  Menikahlah dengan pria/wanita yang anda cintai. Ketika anda beranjak tua, keahlian percakapan mereka akan menjadi sepenting seperti hal lain.
    • TIGA. Jangan percaya dengan apa yang anda dengar, Habiskan apa anda miliki atau tidur semau anda.
    • EMPAT. : Ketika anda ucapkan, "Aku mencintaimu", Seriuslah.
    • LIMA. : Ketika anda ucapkan, "Maafkan saya", pandang mata orang itu.
    • ENAM.: Tunanganlah sedikitnya enam bulan sebelum anda menikah.
    • TUJUH.: Percayalah pada cinta pandangan pertama.
    • DELAPAN.: Jangan tertawakan/remehkan impian orang. Orang yang tidak punya impian adalah miskin.
    • SEMBILAN.: Cintailah dengan mendalam dan bergairah. Anda mungkin akan terluka, tapi ini satu-satunya cara untuk menjalani hidup sebenarnya.
    • SEPULUH.: Saat terjadi percekcokan/pertengkaran, Janganlah menyebut nama.
    • SEBELAS.: Jangan menilai orang karena dengan siapa mereka berteman.
    • DUABELAS.: Bicaralah pelan tapi berpikirlah cepat.
    • TIGABELAS.: Ketika seseorang mengajukan pertanyaan yang anda sendiri tidak ingin menjawabnya, tersenyumlah dan tanya, "Kenapa anda ingin tahu?"
    • EMPATBELAS.: Ingat bahwa cinta dan kesuksesan besar membutuhkan pengorbanan.
    • LIMABELAS.: Ucapkan "berkah bagimu" saat anda mendengar orang bersin.
    • ENAMBELAS.: Ketika anda kalah, jangan lupakan pelajaran yang didapat.
    • TUJUHBELAS.: Hargai diri sendiri; Hargai orang lain; Bertanggung jawab pada semua yang anda lakukan.
    • DELAPANBELAS.: Jangan biarkan pertengkaran kecil merusak persahabatan yang besar.
    • SEMBILANBELAS. : Ketika anda sadar telah berbuat kesalahan Ambil langkah segera untuk memperbaikinya.
    • DUAPULUH.: Tersenyumlah saat menerima telepon.Penelpon akan mendengarnya dari suara anda.
    • DUAPULUH DUA.: Habiskan waktu sendirian.

    Keberuntungan Cina

    Anda mungkin tidak percaya ini tapi nasehatnya luar biasa.
    Baca sampai habis, anda akan belajar sesuatu !!!
    • SATU. : Berikan mereka lebih dari yang mereka harapkan dan lakukan itu dengan senang hati.
    • DUA.  :  Menikahlah dengan pria/wanita yang anda cintai. Ketika anda beranjak tua, keahlian percakapan mereka akan menjadi sepenting seperti hal lain.
    • TIGA. Jangan percaya dengan apa yang anda dengar, Habiskan apa anda miliki atau tidur semau anda.
    • EMPAT. : Ketika anda ucapkan, "Aku mencintaimu", Seriuslah.
    • LIMA. : Ketika anda ucapkan, "Maafkan saya", pandang mata orang itu.
    • ENAM.: Tunanganlah sedikitnya enam bulan sebelum anda menikah.
    • TUJUH.: Percayalah pada cinta pandangan pertama.
    • DELAPAN.: Jangan tertawakan/remehkan impian orang. Orang yang tidak punya impian adalah miskin.
    • SEMBILAN.: Cintailah dengan mendalam dan bergairah. Anda mungkin akan terluka, tapi ini satu-satunya cara untuk menjalani hidup sebenarnya.
    • SEPULUH.: Saat terjadi percekcokan/pertengkaran, Janganlah menyebut nama.
    • SEBELAS.: Jangan menilai orang karena dengan siapa mereka berteman.
    • DUABELAS.: Bicaralah pelan tapi berpikirlah cepat.
    • TIGABELAS.: Ketika seseorang mengajukan pertanyaan yang anda sendiri tidak ingin menjawabnya, tersenyumlah dan tanya, "Kenapa anda ingin tahu?"
    • EMPATBELAS.: Ingat bahwa cinta dan kesuksesan besar membutuhkan pengorbanan.
    • LIMABELAS.: Ucapkan "berkah bagimu" saat anda mendengar orang bersin.
    • ENAMBELAS.: Ketika anda kalah, jangan lupakan pelajaran yang didapat.
    • TUJUHBELAS.: Hargai diri sendiri; Hargai orang lain; Bertanggung jawab pada semua yang anda lakukan.
    • DELAPANBELAS.: Jangan biarkan pertengkaran kecil merusak persahabatan yang besar.
    • SEMBILANBELAS. : Ketika anda sadar telah berbuat kesalahan Ambil langkah segera untuk memperbaikinya.
    • DUAPULUH.: Tersenyumlah saat menerima telepon.Penelpon akan mendengarnya dari suara anda.
    • DUAPULUH DUA.: Habiskan waktu sendirian.
    Hanya kami saja yang membawa anak di restoran itu. Aku mendudukkan Erik di kursi khusus untuk anak dan mulai memperhatikan orang-orang yang dengan tenang makan sambil berbincang-bincang.
    Erik memekik gembira dan berteriak "Halo!". 
    Dia menepuk-nepukkan tangan bayinya yang montok ke nampan di kursinya. Matanya membelalak gembira dan ia tersenyum lebar memperlihatkan mulutnya yang masih belum bergigi. Dia menggeliat-geliat dan tertawa-tawa kesenangan. Aku melihat ke sekeliling dan segera menemukan sumber kegembiraannya. Ada seorang pria dengan jas yang compang-camping, kotor, berminyak, dan usang. Dia memakai celana baggy dengan resleting yang setengah terbuka dan jempol kakinya menyembul dari sepatunya yang sudah hampir hancur. Bajunya kotor dan rambutnya yang kotor tidak disisir. Cambangnya terlalu pendek untuk bisa disebut sebagai jenggot, dan hidungnya penuh guratan sehingga tampak seperti peta jalanan. Kami duduk cukup jauh sehingga tidak mencium baunya, tapi aku yakin dia pasti bau sekali.
    Dia melambaikan dan menggoyang-goyangkan tangannya. "Halo, sayang. Halo anak pintar. Ciluk ba!", dia berkata pada Erik.
    Suamiku dan aku saling berpandangan, "Apa yang harus kami lakukan?"
    Erik terus tertawa dan menjawab "Halo, Halo."
    Semua orang di restoran memandangi kami dan pria itu. Orang tua yang aneh sedang mengganggu bayi manisku.
    Makanan kami datang dan pria itu mulai berteriak dari seberang ruangan.
    "Kamu tahu kue pastel? Kamu bisa cilukba? Hei, dia bisa ciluk ba."
    Tak ada seorangpun yang menganggap pria itu lucu. Menurutku dia pasti mabuk. Suamiku dan aku sangat malu. Kami makan dengan diam, kecuali si Erik, yang mulai menyanyikan semua lagu yang dikenalnya untuk si gembel yang mengaguminya, yang memberikan komentar yang lucu-lucu.
    Akhirnya kami selesai makan dan beranjak pulang. Suamiku membayar ke kasir dan menyuruhku menunggu di tempat parkir.
    Pria tua itu duduk di antara kami dan pintu keluar.
    "Tuhan, biarkan aku keluar dari sini sebelum dia sempat berbicara dengan aku atau Erik." doaku.
    Saat mendekati pria itu, aku berjalan menyamping untuk menghindari baunya. Saat aku melakukan itu, Erik menyandar pada lenganku dan merentangkan kedua tangannya minta digendong. Sebelum aku sempat menghentikannya, Erik sudah meronta dari tanganku dan menuju tangan pria itu. Tiba-tiba, pria tua yang sangat bau dan seorang bayi yang masih kecil mewujudkan rasa sayang mereka. Erik, dengan penuh kepercayaan, sayang, dan pasrah merebahkan kepalanya yang mungil ke atas pundak pria itu. Mata pria itu terpejam dan aku bisa melihat air mata menggenang di bawah bulu matanya. Tangan tuanya yang kotor dan penuh tanda-tanda kepenatan karena terlalu sering dipakai untuk bekerja keras, dengan lembut, sangat lembut menimang bayiku dan mengelus punggungnya. Belum pernah ada dua insan yang dapat menyayangi dengan begitu dalam hanya dalam waktu sesingkat itu.
    Aku terpaku. Pria tua itu menggoyang dan menimang Erik di pelukannya selama beberapa saat, dan kemudian matanya terbuka dan memandangku dalam-dalam.
    Dia berkata dengan tegas, "Jaga bayi ini dengan baik."
    Kerongkonganku bagai tersumbat batu. Entah bagaimana caranya, aku berhasil menjawab, "Baik".
    Dia menjauhkan Erik dari dadanya, dengan tak rela, dan berlama-lama, seolah merasakan nyeri yang mendalam.
    Aku menerima bayiku dan kemudian pria itu berkata, "Tuhan memberkati anda, Nyonya. Anda telah memberiku hadiah Natal."
    Aku tidak dapat berkata apapun selain menggumamkan terima kasih. Dengan memeluk Erik, aku berlari ke mobil.
    Suamiku bertanya kenapa aku menangis sambil memeluk Erik dengan eratnya, dan berkomat-kamit, "Ya Tuhan, Tuhanku, ampunilah aku." Aku baru saja menyaksikan kasih Yesus terpancar melalui kepolosan seorang anak kecil yang tidak memandang dosa, tidak menghakimi; seorang anak yang memandang jiwa, dan seorang ibu yang hanya melihat penampilan luar saja. Aku adalah seorang Kristen yang buta, memeluk seorang anak kecil yang dapat melihat.
    Aku merasakan Tuhan bertanya kepadaku, "Apakah engkau bersedia membagi anakmu untuk beberapa saat saja?" bukankah Ia telah membagi anakNya untuk selama-lamanya. Gembel tua itu, tanpa disengaja, telah mengingatkanku "Untuk dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah, kita harus menjadi seperti anak-anak."
    Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri
    Matius 22:39 -

    Oleh: Theresa Hunt
    Diterjemahkan: Mey Febriana 

    Sebuah Pelajaran

    Hanya kami saja yang membawa anak di restoran itu. Aku mendudukkan Erik di kursi khusus untuk anak dan mulai memperhatikan orang-orang yang dengan tenang makan sambil berbincang-bincang.
    Erik memekik gembira dan berteriak "Halo!". 
    Dia menepuk-nepukkan tangan bayinya yang montok ke nampan di kursinya. Matanya membelalak gembira dan ia tersenyum lebar memperlihatkan mulutnya yang masih belum bergigi. Dia menggeliat-geliat dan tertawa-tawa kesenangan. Aku melihat ke sekeliling dan segera menemukan sumber kegembiraannya. Ada seorang pria dengan jas yang compang-camping, kotor, berminyak, dan usang. Dia memakai celana baggy dengan resleting yang setengah terbuka dan jempol kakinya menyembul dari sepatunya yang sudah hampir hancur. Bajunya kotor dan rambutnya yang kotor tidak disisir. Cambangnya terlalu pendek untuk bisa disebut sebagai jenggot, dan hidungnya penuh guratan sehingga tampak seperti peta jalanan. Kami duduk cukup jauh sehingga tidak mencium baunya, tapi aku yakin dia pasti bau sekali.
    Dia melambaikan dan menggoyang-goyangkan tangannya. "Halo, sayang. Halo anak pintar. Ciluk ba!", dia berkata pada Erik.
    Suamiku dan aku saling berpandangan, "Apa yang harus kami lakukan?"
    Erik terus tertawa dan menjawab "Halo, Halo."
    Semua orang di restoran memandangi kami dan pria itu. Orang tua yang aneh sedang mengganggu bayi manisku.
    Makanan kami datang dan pria itu mulai berteriak dari seberang ruangan.
    "Kamu tahu kue pastel? Kamu bisa cilukba? Hei, dia bisa ciluk ba."
    Tak ada seorangpun yang menganggap pria itu lucu. Menurutku dia pasti mabuk. Suamiku dan aku sangat malu. Kami makan dengan diam, kecuali si Erik, yang mulai menyanyikan semua lagu yang dikenalnya untuk si gembel yang mengaguminya, yang memberikan komentar yang lucu-lucu.
    Akhirnya kami selesai makan dan beranjak pulang. Suamiku membayar ke kasir dan menyuruhku menunggu di tempat parkir.
    Pria tua itu duduk di antara kami dan pintu keluar.
    "Tuhan, biarkan aku keluar dari sini sebelum dia sempat berbicara dengan aku atau Erik." doaku.
    Saat mendekati pria itu, aku berjalan menyamping untuk menghindari baunya. Saat aku melakukan itu, Erik menyandar pada lenganku dan merentangkan kedua tangannya minta digendong. Sebelum aku sempat menghentikannya, Erik sudah meronta dari tanganku dan menuju tangan pria itu. Tiba-tiba, pria tua yang sangat bau dan seorang bayi yang masih kecil mewujudkan rasa sayang mereka. Erik, dengan penuh kepercayaan, sayang, dan pasrah merebahkan kepalanya yang mungil ke atas pundak pria itu. Mata pria itu terpejam dan aku bisa melihat air mata menggenang di bawah bulu matanya. Tangan tuanya yang kotor dan penuh tanda-tanda kepenatan karena terlalu sering dipakai untuk bekerja keras, dengan lembut, sangat lembut menimang bayiku dan mengelus punggungnya. Belum pernah ada dua insan yang dapat menyayangi dengan begitu dalam hanya dalam waktu sesingkat itu.
    Aku terpaku. Pria tua itu menggoyang dan menimang Erik di pelukannya selama beberapa saat, dan kemudian matanya terbuka dan memandangku dalam-dalam.
    Dia berkata dengan tegas, "Jaga bayi ini dengan baik."
    Kerongkonganku bagai tersumbat batu. Entah bagaimana caranya, aku berhasil menjawab, "Baik".
    Dia menjauhkan Erik dari dadanya, dengan tak rela, dan berlama-lama, seolah merasakan nyeri yang mendalam.
    Aku menerima bayiku dan kemudian pria itu berkata, "Tuhan memberkati anda, Nyonya. Anda telah memberiku hadiah Natal."
    Aku tidak dapat berkata apapun selain menggumamkan terima kasih. Dengan memeluk Erik, aku berlari ke mobil.
    Suamiku bertanya kenapa aku menangis sambil memeluk Erik dengan eratnya, dan berkomat-kamit, "Ya Tuhan, Tuhanku, ampunilah aku." Aku baru saja menyaksikan kasih Yesus terpancar melalui kepolosan seorang anak kecil yang tidak memandang dosa, tidak menghakimi; seorang anak yang memandang jiwa, dan seorang ibu yang hanya melihat penampilan luar saja. Aku adalah seorang Kristen yang buta, memeluk seorang anak kecil yang dapat melihat.
    Aku merasakan Tuhan bertanya kepadaku, "Apakah engkau bersedia membagi anakmu untuk beberapa saat saja?" bukankah Ia telah membagi anakNya untuk selama-lamanya. Gembel tua itu, tanpa disengaja, telah mengingatkanku "Untuk dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah, kita harus menjadi seperti anak-anak."
    Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri
    Matius 22:39 -

    Oleh: Theresa Hunt
    Diterjemahkan: Mey Febriana 

    Suatu ketika, ada seorang kakek yang sedang berada di sebuah taman kecil. Di dekatnya terdapat beberapa anak yang sedang bermain pasir, membentuk lingkaran. Ia lalu menghampiri mereka, dan berkata: ….
    “Siapa yang mau uang Rp. 10.000!!” Semua anak itu berhenti bermain dan serempak mengacungkan tangan. Ia lalu berkata, “Kakek akan memberikan uang, tapi, setelah kalian semua melihat ini dulu.” ……Kakek itu lalu meremas-remas uang itu hingga lusuh. Di remasnya terus hingga beberapa saat. Ia lalu kembali bertanya “Siapa yang masih mau dengan uang ini? Anak-anak itu tetap bersemangat mengacungkan tangan…….“Tapi,… kalau kakek injak bagaimana? “. Lalu, kakek itu malah menjatuhkan uang itu ke tanah dan menginjaknya dengan sepatu. Di pijak dan di tekannya keras-keras uang itu hingga kotor. Beberapa saat, Ia lalu mengambil kembali uang itu. Dan ia kembali bertanya: “Siapa yang masih mau uang ini?” Tetap saja…. Anak-anak itu tetap mengacungkan jari mereka….
    Teman-teman, kita belajar sesuatu yang sangat berharga dari cerita itu. Apapun yang dilakukan oleh si Kakek, semua anak akan tetap menginginkan uang itu, sebab, tindakan itu tak akan mengurangi nilai dari uang yang di hadiahkan. Uang itu tetap berharga Rp. 10.000

    Seringkali, dalam hidup ini, kita merasa lusuh, kotor, tertekan, terinjak, tak kuasa, atas segala keputusan yang telah kita ambil. Kita juga kerap mengeluh atas semua ujian yang di berikan-Nya.
    Kita seringkali merasa tak berguna, tak berharga di mata orang lain. Kita merasa di sepelekan, di-acuhkan dan tak dipedulikan oleh keluarga, teman, bahkan oleh lingkungan kita. Namun, percayalah, apapun yang terjadi, atau “bakal terjadi”, kita tak akan pernah kehilangan nilai kita di mata Allah Bapa.
    Bagi-Nya, lusuh, kotor, tertekan, ternoda, selalu ada saat untuk ampunan dan maaf. Kita tetap tak ternilai di mata Allah….Nilai dari diri kita, tidak timbul dari apa yang kita sandang, atau dari apa yang kita dapat. Nilai diri kita, akan dinilai dari seberapa jauh kita menghargai diri sendiri. …Selamat Siang Berkah Dalem

    Nilai.......


    Suatu ketika, ada seorang kakek yang sedang berada di sebuah taman kecil. Di dekatnya terdapat beberapa anak yang sedang bermain pasir, membentuk lingkaran. Ia lalu menghampiri mereka, dan berkata: ….
    “Siapa yang mau uang Rp. 10.000!!” Semua anak itu berhenti bermain dan serempak mengacungkan tangan. Ia lalu berkata, “Kakek akan memberikan uang, tapi, setelah kalian semua melihat ini dulu.” ……Kakek itu lalu meremas-remas uang itu hingga lusuh. Di remasnya terus hingga beberapa saat. Ia lalu kembali bertanya “Siapa yang masih mau dengan uang ini? Anak-anak itu tetap bersemangat mengacungkan tangan…….“Tapi,… kalau kakek injak bagaimana? “. Lalu, kakek itu malah menjatuhkan uang itu ke tanah dan menginjaknya dengan sepatu. Di pijak dan di tekannya keras-keras uang itu hingga kotor. Beberapa saat, Ia lalu mengambil kembali uang itu. Dan ia kembali bertanya: “Siapa yang masih mau uang ini?” Tetap saja…. Anak-anak itu tetap mengacungkan jari mereka….
    Teman-teman, kita belajar sesuatu yang sangat berharga dari cerita itu. Apapun yang dilakukan oleh si Kakek, semua anak akan tetap menginginkan uang itu, sebab, tindakan itu tak akan mengurangi nilai dari uang yang di hadiahkan. Uang itu tetap berharga Rp. 10.000

    Seringkali, dalam hidup ini, kita merasa lusuh, kotor, tertekan, terinjak, tak kuasa, atas segala keputusan yang telah kita ambil. Kita juga kerap mengeluh atas semua ujian yang di berikan-Nya.
    Kita seringkali merasa tak berguna, tak berharga di mata orang lain. Kita merasa di sepelekan, di-acuhkan dan tak dipedulikan oleh keluarga, teman, bahkan oleh lingkungan kita. Namun, percayalah, apapun yang terjadi, atau “bakal terjadi”, kita tak akan pernah kehilangan nilai kita di mata Allah Bapa.
    Bagi-Nya, lusuh, kotor, tertekan, ternoda, selalu ada saat untuk ampunan dan maaf. Kita tetap tak ternilai di mata Allah….Nilai dari diri kita, tidak timbul dari apa yang kita sandang, atau dari apa yang kita dapat. Nilai diri kita, akan dinilai dari seberapa jauh kita menghargai diri sendiri. …Selamat Siang Berkah Dalem

    Alkisah, ada seorang pedagang kaya yang merasa dirinya tidak bahagia. Dari pagi-pagi buta, dia telah bangun dan mulai bekerja. Siang hari bertemu dengan orang-orang untuk membeli atau menjual barang. Hingga malam hari, dia masih sibuk dengan buku catatan dan mesin hitungnya. Menjelang tidur, dia masih memikirkan rencana kerja untuk keesokan harinya. Begitu hari-hari berlalu.
    Suatu pagi sehabis mandi, saat berkaca, tiba-tiba dia kaget saat menyadari rambutnya mulai menipis dan berwarna abu-abu. “Akh. Aku sudah menua. Setiap hari aku bekerja, telah menghasilkan kekayaan begitu besar! Tetapi kenapa aku tidak bahagia? Ke mana saja aku selama ini?”
    Setelah menimbang, si pedagang memutuskan untuk pergi meninggalkan semua kesibukannya dan melihat kehidupan di luar sana. Dia berpakaian layaknya rakyat biasa dan membaur ke tempat keramaian.
    “Duh, hidup begitu susah, begitu tidak adil! Kita telah bekerja dari pagi hingga sore, tetapi tetap saja miskin dan kurang,” terdengar sebagian penduduk berkeluh kesah.
    Di tempat lain, dia mendengar seorang saudagar kaya; walaupun harta berkecukupan, tetapi tampak sedang sibuk berkata-kata kotor dan memaki dengan garang. Tampaknya dia juga tidak bahagia.
    Si pedagang meneruskan perjalanannya hingga tiba di tepi sebuah hutan. Saat dia berniat untuk beristirahat sejenak di situ, tiba-tiba telinganya menangkap gerak langkah seseorang dan teriakan lantang, “Huah! Tuhan, terima kasih. Hari ini aku telah mampu menyelesaikan tugasku dengan baik. Hari ini aku telah pula makan dengan kenyang dan nikmat. Terima kasih Tuhan, Engkau telah menyertaiku dalam setiap langkahku. Dan sekarang, saatnya hambamu hendak beristirahat.”
    Setelah tertegun beberapa saat dan menyimak suara lantang itu, si pedagang bergegas mendatangi asal suara tadi. Terlihat seorang pemuda berbaju lusuh telentang di rerumputan. Matanya terpejam. Wajahnya begitu bersahaja.
    Mendengar suara di sekitarnya, dia terbangun. Dengan tersenyum dia menyapa ramah, “Hai, Pak Tua. Silahkan beristirahat di sini.”
    “Terima kasih, Anak Muda. Boleh bapak bertanya?” tanya si pedagang.
    “Silakan.”
    “Apakah kerjamu setiap hari seperti ini?”
    “Tidak, Pak Tua. Menurutku, tak peduli apapun pekerjaan itu, asalkan setiap hari aku bisa bekerja dengan sebaik2nya dan pastinya aku tidak harus mengerjakan hal sama setiap hari. Aku senang, orang yang kubantu senang, orang yang membantuku juga senang, pasti Tuhan juga senang di atas sana. Ya kan? Dan akhirnya, aku perlubersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan atas semua pemberiannya ini”.
    Teman-teman yang luar biasa,
    Kenyataan di kehidupan ini, kekayaan, ketenaran, dan kekuasaan sebesar apapun tidak menjamin rasa bahagia. Bisa kita baca kisah hidup seorang maha bintang Michael Jackson yang meninggal belum lama ini, yang berhutang di antara kelimpahan kekayaannya. Dia hidup menyendiri dan kesepian di tengah keramaian penggemarnya;tidak bahagia di tengah hiruk pikuk bumi yang diperjuangkannya.
    Entah seberapa kontroversial kehidupan Jacko. Tetapi, yah… setidaknya, dia telah berusaha berbuat yang terbaik dari dirinya untuk umat manusia lainnya.
    Mari, jangan menjadi budaknya materi. Mampu bersyukur merupakan kebutuhan manusia. Mari kita berusaha memberikan yang terbaik bagi diri kita sendiri, lingkungan kita, dan bagi manusia-manusia lainnya. Sehingga, kita senantiasa bisa menikmati hidup ini penuh dengan sukacita, syukur, dan bahagia. Berkah Dalem

    BERSYUKUR DAN BAHAGIA


    Alkisah, ada seorang pedagang kaya yang merasa dirinya tidak bahagia. Dari pagi-pagi buta, dia telah bangun dan mulai bekerja. Siang hari bertemu dengan orang-orang untuk membeli atau menjual barang. Hingga malam hari, dia masih sibuk dengan buku catatan dan mesin hitungnya. Menjelang tidur, dia masih memikirkan rencana kerja untuk keesokan harinya. Begitu hari-hari berlalu.
    Suatu pagi sehabis mandi, saat berkaca, tiba-tiba dia kaget saat menyadari rambutnya mulai menipis dan berwarna abu-abu. “Akh. Aku sudah menua. Setiap hari aku bekerja, telah menghasilkan kekayaan begitu besar! Tetapi kenapa aku tidak bahagia? Ke mana saja aku selama ini?”
    Setelah menimbang, si pedagang memutuskan untuk pergi meninggalkan semua kesibukannya dan melihat kehidupan di luar sana. Dia berpakaian layaknya rakyat biasa dan membaur ke tempat keramaian.
    “Duh, hidup begitu susah, begitu tidak adil! Kita telah bekerja dari pagi hingga sore, tetapi tetap saja miskin dan kurang,” terdengar sebagian penduduk berkeluh kesah.
    Di tempat lain, dia mendengar seorang saudagar kaya; walaupun harta berkecukupan, tetapi tampak sedang sibuk berkata-kata kotor dan memaki dengan garang. Tampaknya dia juga tidak bahagia.
    Si pedagang meneruskan perjalanannya hingga tiba di tepi sebuah hutan. Saat dia berniat untuk beristirahat sejenak di situ, tiba-tiba telinganya menangkap gerak langkah seseorang dan teriakan lantang, “Huah! Tuhan, terima kasih. Hari ini aku telah mampu menyelesaikan tugasku dengan baik. Hari ini aku telah pula makan dengan kenyang dan nikmat. Terima kasih Tuhan, Engkau telah menyertaiku dalam setiap langkahku. Dan sekarang, saatnya hambamu hendak beristirahat.”
    Setelah tertegun beberapa saat dan menyimak suara lantang itu, si pedagang bergegas mendatangi asal suara tadi. Terlihat seorang pemuda berbaju lusuh telentang di rerumputan. Matanya terpejam. Wajahnya begitu bersahaja.
    Mendengar suara di sekitarnya, dia terbangun. Dengan tersenyum dia menyapa ramah, “Hai, Pak Tua. Silahkan beristirahat di sini.”
    “Terima kasih, Anak Muda. Boleh bapak bertanya?” tanya si pedagang.
    “Silakan.”
    “Apakah kerjamu setiap hari seperti ini?”
    “Tidak, Pak Tua. Menurutku, tak peduli apapun pekerjaan itu, asalkan setiap hari aku bisa bekerja dengan sebaik2nya dan pastinya aku tidak harus mengerjakan hal sama setiap hari. Aku senang, orang yang kubantu senang, orang yang membantuku juga senang, pasti Tuhan juga senang di atas sana. Ya kan? Dan akhirnya, aku perlubersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan atas semua pemberiannya ini”.
    Teman-teman yang luar biasa,
    Kenyataan di kehidupan ini, kekayaan, ketenaran, dan kekuasaan sebesar apapun tidak menjamin rasa bahagia. Bisa kita baca kisah hidup seorang maha bintang Michael Jackson yang meninggal belum lama ini, yang berhutang di antara kelimpahan kekayaannya. Dia hidup menyendiri dan kesepian di tengah keramaian penggemarnya;tidak bahagia di tengah hiruk pikuk bumi yang diperjuangkannya.
    Entah seberapa kontroversial kehidupan Jacko. Tetapi, yah… setidaknya, dia telah berusaha berbuat yang terbaik dari dirinya untuk umat manusia lainnya.
    Mari, jangan menjadi budaknya materi. Mampu bersyukur merupakan kebutuhan manusia. Mari kita berusaha memberikan yang terbaik bagi diri kita sendiri, lingkungan kita, dan bagi manusia-manusia lainnya. Sehingga, kita senantiasa bisa menikmati hidup ini penuh dengan sukacita, syukur, dan bahagia. Berkah Dalem
    Kebebasan beragama adalah prinsip yang mendukung kebebasan individu atau masyarakat, untuk menerapkan agama atau kepercayaan dalam ruang pribadi atau umum. Kebebasan beragama termasuk kebebasan untuk mengubah agama dan tidak menurut setiap agama.

    Dalam negara yang mengamalkan kebebasan beragama, agama-agama lain bebas dilakukan dan ia tidak menghukum atau menindas pengikut kepercayaan lain yang lain dari agama resmi.

    Sementara itu, toleransi beragama berarti saling menghormati dan berlapang dada terhadap pemeluk agama lain, tidak memaksa mereka mengikuti agamanya dan tidak mencampuri urusan agama masing-masing.

    Berbicara tentang kebebasan dan toleransi beragama. Ada sebuah cerita menarik yang bisa diambil dari sepasang saudara kembar yang telah menginjak usia paruh baya.

    Kedua wanita kembar ini tumbuh dan memilih cara yang berbeda dalam hal keyakinan. Satu memilih Islam sebagai jalan hidupnya dan satunya mengabdikan diri sebagai seorang biarawati Katolik di Konggregasi PBHK dan sekarang berkarya di Marauke, Papua.

    Meski keduanya memilih jalan berbeda dalam hal keyakinan. Hal itu tidak mempengaruhi hubungan keduanya. Mereka akur, harmonis dan tetap menyayangi satu sama lain.

    Kisah keduanya menjadi banyak pembicaraan setelah akun Facebook, Bernadus Yohanes Raldy Doy membagikannya ke sejumlah media sosial. Komentarpun bernada positif banyak diberikan terkait kerukunan antara saudara kembar yang berbeda keyakinan.

    Seperti yang diungkapkan akun Facebook Hermain Hidayat "Subhanallah..Semoga ini contoh nyata persaudaraan antar umat beragama yg harmonis di NKRI..Aamiin.." tulisnya.

    Hal senanda diungkapkan akun Jan Weslyn Purba Tambak. Ia mengatakan bahwa kisah saudara kembara itu adalah contoh indahnya perbedaan "Luar biasa ..... ternyata perbedaan keyakinan itu indah dan mempersatukan sesama, menjadi teladan buat kita semua, Amiiin," ungkapnya.

    Sumber: http://makassar.tribunnews.com/

    SAUDARA KIEMBAR YANG BERBEDA KEYAKINAN

    Kebebasan beragama adalah prinsip yang mendukung kebebasan individu atau masyarakat, untuk menerapkan agama atau kepercayaan dalam ruang pribadi atau umum. Kebebasan beragama termasuk kebebasan untuk mengubah agama dan tidak menurut setiap agama.

    Dalam negara yang mengamalkan kebebasan beragama, agama-agama lain bebas dilakukan dan ia tidak menghukum atau menindas pengikut kepercayaan lain yang lain dari agama resmi.

    Sementara itu, toleransi beragama berarti saling menghormati dan berlapang dada terhadap pemeluk agama lain, tidak memaksa mereka mengikuti agamanya dan tidak mencampuri urusan agama masing-masing.

    Berbicara tentang kebebasan dan toleransi beragama. Ada sebuah cerita menarik yang bisa diambil dari sepasang saudara kembar yang telah menginjak usia paruh baya.

    Kedua wanita kembar ini tumbuh dan memilih cara yang berbeda dalam hal keyakinan. Satu memilih Islam sebagai jalan hidupnya dan satunya mengabdikan diri sebagai seorang biarawati Katolik di Konggregasi PBHK dan sekarang berkarya di Marauke, Papua.

    Meski keduanya memilih jalan berbeda dalam hal keyakinan. Hal itu tidak mempengaruhi hubungan keduanya. Mereka akur, harmonis dan tetap menyayangi satu sama lain.

    Kisah keduanya menjadi banyak pembicaraan setelah akun Facebook, Bernadus Yohanes Raldy Doy membagikannya ke sejumlah media sosial. Komentarpun bernada positif banyak diberikan terkait kerukunan antara saudara kembar yang berbeda keyakinan.

    Seperti yang diungkapkan akun Facebook Hermain Hidayat "Subhanallah..Semoga ini contoh nyata persaudaraan antar umat beragama yg harmonis di NKRI..Aamiin.." tulisnya.

    Hal senanda diungkapkan akun Jan Weslyn Purba Tambak. Ia mengatakan bahwa kisah saudara kembara itu adalah contoh indahnya perbedaan "Luar biasa ..... ternyata perbedaan keyakinan itu indah dan mempersatukan sesama, menjadi teladan buat kita semua, Amiiin," ungkapnya.

    Sumber: http://makassar.tribunnews.com/

    Salah satu dari perjumpaan-perjumpaan yang paling mengharukan dalam perjalanan apostolik Paus Fransiskus terjadi dalam pertemuan dengan kaum muda di Universitas Santo Tomas, tanggal 18 Januari 2015, demikian laporan Radio Vatikan dua hari setelah pertemuan itu.

    Saat itu Bapa Suci mendengarkan kesaksian dua anak jalanan yang ditampung oleh Yayasan Tulay ng Kabataan (ANAK-Tnk), yakni Juni Chura berusia 14 tahun dan Glyzelle Palomar berusia dua belas tahun yang telah mengalami pengalaman-pengalaman terburuk di jalan-jalan Manila.

    “Mengapa Tuhan mengijinkan hal-hal seperti itu terjadi, padahal ini bukanlah kesalahan anak-anak?” tanya Glyzelle menangis.
    Paus Fransiskus memeluk kedua anak itu. Kepada yang hadir Paus minta agar mereka bertanya dalam diri masing-masing, “Sudahkah saya belajar menangis saat melihat anak yang lapar, anak yang menggunakan narkoba di jalanan, anak yang tak punya rumah, anak yang terbuang, seorang anak yang diperlakukan kejam, anak yang digunakan masyarakat sebagai budak?”

    Kesaksian anak-anak disampaikan dalam bahasa Tagalog. Yayasan ANAK-Tnk kemudian merilis terjemahannya dalam Inggris.

    Juni “Michael” Chura bercerita bahwa keluarganya tidak lagi mampu menyekolahkan dia, maka dia pergi meninggalkan keluarganya. “Kemudian saya makan apa yang didapat di tempat sampah. Saya tidak tahu harus pergi ke mana dan saya tidur di trotoar. Saya mencari sepotong karton sebagai tikar. Dan saya berupaya mengatasi situasi ini meskipun tubuhku begitu kotor seperti teman-teman di jalanan.”

    Juni mengaku tidak tahu cara mendapatkan makanan hari demi hari. “Apa yang saya lakukan hanyalah menunggu orang selesai makan di restoran, kemudian saya meminta sisa makanan mereka. Kadang-kadang saya juga berkeliaran sekedar untuk menemukan barang rusak yang saya jual. Saya cari botol plastik, atau kertas dan saat tas saya penuh, saya jual agar dapat uang untuk beli makanan,” kata Juni yang mengaku pernah mengetuk pintu-pintu rumah orang untuk meminta makanan.

    Ketika di jalanan, ceritanya, dia menyaksikan hal-hal yang dia tidak suka, hal-hal buruk yang terjadi pada teman-temannya. “Saya melihat mereka diajarkan cara mencuri, juga membunuh, dan mereka tidak lagi menghormati orang dewasa. Kadang-kadang mereka mempertengkarkan yang mereka curi. Saya juga melihat beberapa anak diajarkan cara memakai shabu, rokok atau ganja. Saya juga melihat ada teman saya ngelem. Ini juga narkoba. Ini sering saya lihat terjadi pada teman-teman saya di jalanan.”

    Juni mengaku sangat berhati-hati di jalanan karena beberapa temannya ditipu oleh orang dewasa. “Mereka pura-pura memberi uang untuk menarik perhatian dan mendekati anak-anak serta membuat mereka mengira bahwa mereka akan diberikan makanan atau kesempatan belajar serta perawatan. Tetapi kenyataannya mereka memiliki tujuan lain dan mereka akan menggunakanmu, misalnya untuk membersihkan rumah mereka, dan kadang-kadang mereka punya tujuan berbahaya seperti pelecehan seksual,” ceritanya seraya menegaskan “Ada begitu banyak pelanggaran terjadi di jalanan!”

    Tiba-tiba, dia menemukan kembali harapan, setelah seorang pendidik jalanan dari Yayasan ANAK-Tnk bertanya apakah dia ingin bergabung lembaga yang membantu anak-anak yang tinggal di jalanan itu. “Dia bertanya apakah saya ingin gabung. Awalnya saya menolak usulan itu. Beberapa hari kemudian, ketika tahu bahwa Tulay ng Kabataan benar-benar memperhatikan anak-anak jalanan yang tidak lagi tinggal bersama keluarga mereka, saya menyadari bahwa tidak semua orang tidak punya hati. Masih ada orang dengan hati yang siap membantu anak-anak yang membutuhkan.”

    Ketika bergabung, dia mengaku sangat terkejut melihat ada orang-orang yang benar-benar siap membantu. “Dan kemudian, saya mulai bermimpi lagi. Saya berkata kepada diriku sendiri, kalau saya menyelesaikan studi saya, saya akan menjadi orang yang membantu anak-anak jalanan seperti saya sebelumnya. Aku akan bisa juga membantu keluarga saya sendiri dan Yayasan ANAK-Tnk yang membantu saya melanjutkan studi. Sekarang saya tahu bahwa saya bisa melanjutkan studi karena TNK (ANAK-Tnk) mendukung saya, dan jangan berhenti membantu saya dan teman-teman saya dari jalanan. Terima kasih banyak!”

    Menurut Glyzelle, ada banyak anak diterlantarkan oleh orang tua mereka sendiri. “Ada juga banyak anak yang menjadi korban dan banyak hal-hal mengerikan terjadi pada mereka seperti narkoba atau prostitusi. Mengapa Tuhan mengijinkan hal-hal seperti itu terjadi, padahal ini bukanlah kesalahan anak-anak? Dan mengapa hanya sangat sedikit orang yang membantu kami?” (pcp berdasarkan Radio Vatikan)

    PERJUMPAAN PALING MENGHARUKAN


    Salah satu dari perjumpaan-perjumpaan yang paling mengharukan dalam perjalanan apostolik Paus Fransiskus terjadi dalam pertemuan dengan kaum muda di Universitas Santo Tomas, tanggal 18 Januari 2015, demikian laporan Radio Vatikan dua hari setelah pertemuan itu.

    Saat itu Bapa Suci mendengarkan kesaksian dua anak jalanan yang ditampung oleh Yayasan Tulay ng Kabataan (ANAK-Tnk), yakni Juni Chura berusia 14 tahun dan Glyzelle Palomar berusia dua belas tahun yang telah mengalami pengalaman-pengalaman terburuk di jalan-jalan Manila.

    “Mengapa Tuhan mengijinkan hal-hal seperti itu terjadi, padahal ini bukanlah kesalahan anak-anak?” tanya Glyzelle menangis.
    Paus Fransiskus memeluk kedua anak itu. Kepada yang hadir Paus minta agar mereka bertanya dalam diri masing-masing, “Sudahkah saya belajar menangis saat melihat anak yang lapar, anak yang menggunakan narkoba di jalanan, anak yang tak punya rumah, anak yang terbuang, seorang anak yang diperlakukan kejam, anak yang digunakan masyarakat sebagai budak?”

    Kesaksian anak-anak disampaikan dalam bahasa Tagalog. Yayasan ANAK-Tnk kemudian merilis terjemahannya dalam Inggris.

    Juni “Michael” Chura bercerita bahwa keluarganya tidak lagi mampu menyekolahkan dia, maka dia pergi meninggalkan keluarganya. “Kemudian saya makan apa yang didapat di tempat sampah. Saya tidak tahu harus pergi ke mana dan saya tidur di trotoar. Saya mencari sepotong karton sebagai tikar. Dan saya berupaya mengatasi situasi ini meskipun tubuhku begitu kotor seperti teman-teman di jalanan.”

    Juni mengaku tidak tahu cara mendapatkan makanan hari demi hari. “Apa yang saya lakukan hanyalah menunggu orang selesai makan di restoran, kemudian saya meminta sisa makanan mereka. Kadang-kadang saya juga berkeliaran sekedar untuk menemukan barang rusak yang saya jual. Saya cari botol plastik, atau kertas dan saat tas saya penuh, saya jual agar dapat uang untuk beli makanan,” kata Juni yang mengaku pernah mengetuk pintu-pintu rumah orang untuk meminta makanan.

    Ketika di jalanan, ceritanya, dia menyaksikan hal-hal yang dia tidak suka, hal-hal buruk yang terjadi pada teman-temannya. “Saya melihat mereka diajarkan cara mencuri, juga membunuh, dan mereka tidak lagi menghormati orang dewasa. Kadang-kadang mereka mempertengkarkan yang mereka curi. Saya juga melihat beberapa anak diajarkan cara memakai shabu, rokok atau ganja. Saya juga melihat ada teman saya ngelem. Ini juga narkoba. Ini sering saya lihat terjadi pada teman-teman saya di jalanan.”

    Juni mengaku sangat berhati-hati di jalanan karena beberapa temannya ditipu oleh orang dewasa. “Mereka pura-pura memberi uang untuk menarik perhatian dan mendekati anak-anak serta membuat mereka mengira bahwa mereka akan diberikan makanan atau kesempatan belajar serta perawatan. Tetapi kenyataannya mereka memiliki tujuan lain dan mereka akan menggunakanmu, misalnya untuk membersihkan rumah mereka, dan kadang-kadang mereka punya tujuan berbahaya seperti pelecehan seksual,” ceritanya seraya menegaskan “Ada begitu banyak pelanggaran terjadi di jalanan!”

    Tiba-tiba, dia menemukan kembali harapan, setelah seorang pendidik jalanan dari Yayasan ANAK-Tnk bertanya apakah dia ingin bergabung lembaga yang membantu anak-anak yang tinggal di jalanan itu. “Dia bertanya apakah saya ingin gabung. Awalnya saya menolak usulan itu. Beberapa hari kemudian, ketika tahu bahwa Tulay ng Kabataan benar-benar memperhatikan anak-anak jalanan yang tidak lagi tinggal bersama keluarga mereka, saya menyadari bahwa tidak semua orang tidak punya hati. Masih ada orang dengan hati yang siap membantu anak-anak yang membutuhkan.”

    Ketika bergabung, dia mengaku sangat terkejut melihat ada orang-orang yang benar-benar siap membantu. “Dan kemudian, saya mulai bermimpi lagi. Saya berkata kepada diriku sendiri, kalau saya menyelesaikan studi saya, saya akan menjadi orang yang membantu anak-anak jalanan seperti saya sebelumnya. Aku akan bisa juga membantu keluarga saya sendiri dan Yayasan ANAK-Tnk yang membantu saya melanjutkan studi. Sekarang saya tahu bahwa saya bisa melanjutkan studi karena TNK (ANAK-Tnk) mendukung saya, dan jangan berhenti membantu saya dan teman-teman saya dari jalanan. Terima kasih banyak!”

    Menurut Glyzelle, ada banyak anak diterlantarkan oleh orang tua mereka sendiri. “Ada juga banyak anak yang menjadi korban dan banyak hal-hal mengerikan terjadi pada mereka seperti narkoba atau prostitusi. Mengapa Tuhan mengijinkan hal-hal seperti itu terjadi, padahal ini bukanlah kesalahan anak-anak? Dan mengapa hanya sangat sedikit orang yang membantu kami?” (pcp berdasarkan Radio Vatikan)
    © 2013 The Great Journey. WP Theme-junkie converted by Bloggertheme9
    Blogger templates. Proudly Powered by Blogger.