Urip Iku Urup ~ Hidup Itu Nyala, Terangilah Sekitar

Urip Iku Urup ~ Hidup Itu Nyala, Terangilah Sekitar

Malam belum terlalu larut ketika gubuk reot di bantaran Kali Code itu kembali gelap. Bukan karena mati lampu karena sejak awal, di gubuk itu memang tak pernah ada listrik.

Mbah Karto, lelaki renta berusia 73 tahun, sedang duduk di ambang pintu. Tangannya yang keriput memegang sebatang rokok klobot yang sudah mati. Matanya menerawang, memandang aliran kali yang berkilau diterpa cahaya bulan. Sunyi. Hanya suara jangkrik dan gemericik air yang menemani.

Di kejauhan, lampu-lampu pertokoan dan hotel di pusat kota berpijar terang. Begitu kontras dengan gubuk Mbah Karto yang hanya mengandalkan satu lampu minyak sebagai penerang.

"Buat apa listrik, Le? Wong aku wis tuwa, paling mung sedhela maneh urip," begitu jawaban Mbah Karto setiap kali Danang mahasiswa indekos di seberang gubuknya menawarkan diri untuk menyambungkan aliran listrik secara patungan.

Mbah Karto adalah tukang becak. Bukan tukang becak biasa. Di usianya yang senja, ia masih mengayuh becaknya dari pagi buta hingga matahari condong ke barat. Bukan untuk memperkaya diri ia bahkan sering menolak jika penumpangnya memberi lebih.

Setiap pagi, sebelum berangkat mencari penumpang, Mbah Karto melakukan rutinitas yang tak pernah ia lewatkan: menyapu jalan sepanjang 500 meter di depan gang. Sendirian. Tanpa diminta. Tanpa dibayar. Daun-daun kering, puntung rokok, dan sampah plastik ia kumpulkan dalam karung bekas, lalu ia bakar di pekarangan kosong.

"Biar nggak banjir, Le. Kalau selokan tersumbat, nanti airnya meluber ke rumah-rumah," katanya suatu pagi, saat Danang memergokinya sedang membungkuk membersihkan selokan dengan tangan telanjang.

Tetangga-tetangga sudah terbiasa. Bahkan mungkin terlalu terbiasa, hingga mereka tak lagi bertanya mengapa Mbah Karto melakukannya.

Suatu siang yang terik, Bu Surti tetangga sebelah gubuk Mbah Karto tiba-tiba menangis histeris. Anak bungsunya, Dika, demam tinggi disertai kejang-kejang. Suaminya sedang bekerja di luar kota, dan Bu Surti tak punya kendaraan. Pusing, panik, bingung.

Mbah Karto baru saja pulang mengayuh becak. Keringatnya masih membasahi baju lusuh berwarna biru dongker itu. Melihat Bu Surti menangis, Mbah Karto langsung mendorong becaknya.

"Sini, Bu. Ayo buruan. Nyawa anakmu lebih penting dari keringatku."

Bu Surti naik dengan Dika di gendongannya. Mbah Karto mengayuh becaknya dengan sekuat tenaga, menyusuri jalanan Yogyakarta yang berkelok, menuju Puskesmas terdekat. Napasnya tersengal. Kakinya yang tua mulai gemetar. Tapi ia terus mengayuh.

Sesampainya di Puskesmas, Mbah Karto tak langsung pulang. Ia duduk di bangku panjang, menunggu. Lima jam ia duduk di situ, hingga dokter keluar dan berkata bahwa Dika sudah membaik.

Bu Surti mendekatinya. "Mbah, terima kasih. Maaf, saya nggak bisa bayar..."

Mbah Karto hanya menggeleng, tersenyum dengan bibirnya yang sudah ompong. "Wis, ora usah mikir bayaran. Sing penting bocahé waras. Aku ra butuh opo-opo."

Danang, yang kebetulan mendengar percakapan itu, tak bisa menahan rasa penasarannya. Malamnya, ia menyusul Mbah Karto yang sedang duduk di ambang pintu gubuknya.

"Mbah," panggil Danang pelan.

"O, Le Danang. Mreneo. Lungguh kene." Mbah Karto menepuk lantai kayu di sampingnya.

Danang duduk bersila. Ia memperhatikan wajah Mbah Karto yang diterpa cahaya lampu minyak. Begitu teduh. Begitu damai.

"Mbah, aku mau tanya sesuatu," kata Danang.

"Tanya apa, Le?"

"Mbah Karto kan hidupnya susah. Nggak punya listrik. Makan kadang cuma nasi sama garam. Tapi kok bisa, Mbah Karto selalu bantu orang? Nggak capek, Mbah? Nggak rugi?"

Mbah Karto diam sejenak. Ia mengambil korek api kayu dari sakunya korek api kuno yang sudah susah dicari sekarang. Ia menggesekkan korek itu. Sekali. Dua kali. Sampai menyala.

"Delengen iki, Le," katanya lirih, mendekatkan nyala korek ke wajah Danang.

"Cahaya iki. Dheweké nyala, tapi dheweké kobong. Dheweké ora sambat. Ora nangis. Ora nuntut. Sing penting pepadhang iku ono. Sing penting liyané bisa weruh dalan."

Mbah Karto mematikan korek itu dengan tiupan pelan.

"Kowe ngerti, Le? Urip iku urup. Hidup itu nyala. Kita hidup bukan untuk menerangi diri sendiri. Wong sing mung mikir uripé dewe, kuwi uripé peteng. Tapi wong sing gelem dadi pepadhang kanggo liyan, senajan awake dhewe kobong, kuwi urip sing sejati."

Danang terpaku. Jantungnya berdegup kencang.

"Aku mungkin nggak punya listrik," lanjut Mbah Karto, "tapi aku nggak butuh listrik. Wong aku ini lampu, Le. Tugasku menerangi. Kalau aku mati, biarlah. Yang penting, aku pernah berguna."

Air mata Danang jatuh. Ia menunduk, malu. Selama ini, ia merasa lebih pintar, lebih kaya, lebih modern dari Mbah Karto. Tapi malam itu, ia sadar: di hadapan Mbah Karto, ia hanyalah manusia kerdil.

"Mbah, Mbah Karto percaya sama Tuhan?" tanya Danang tiba-tiba.

Mbah Karto tersenyum lagi. "Percaya, Le. Tuhanku ya Gusti Yesus. Aku dulu Katolik, sekarang Kristen Jawa. Tapi aku jarang ke gereja, Le. Kakiku wis ra kuat. Lagian, Gusti Yesus nggak cuma ada di gereja. Dheweké ana ing njero atiku. Ana ing bocah-bocah sing tak tulungi. Ana ing dalan-dalan sing tak saponi."

Danang tertegun. "Mbah Karto sering baca Alkitab?"

"Aku ra iso maca, Le. Nanging aku tau krungu saka pandhita." Mbah Karto menatap langit malam. "Kae... ana ayat sing tak eling terus nganti saiki."

"Ayat apa, Mbah?"

Mbah Karto memejamkan mata. Ia mengingat-ingat, lalu mengucapkannya dengan suara bergetar, penuh penghayatan:

"Anggonmu padha pepadhang iku dadia ing ngarepe wong, supaya padha weruh panggawemu kang becik, sarta padha ngluhurake Ramamu kang ana ing swarga.” ~ *(Matius 5:16)

Danang tercengang. Ayat itu begitu hidup di dalam diri Mbah Karto.

"Pandhita ngendika, Le," lanjut Mbah Karto, "Gusti Yesus wis dadi pepadhang sejati. Saiki, wis tugasku dadi pepadhang. Meski mung lampu minyak, sing penting murup. Sing penting urup."

Malam semakin larut. Lampu minyak di gubuk Mbah Karto mulai redup. Tapi di hati Danang, sebuah cahaya baru saja dinyalakan.

📖 Wejangan dari Kitab Suci Injil

Kisah Mbah Karto adalah perwujudan nyata dari ajaran Kristus tentang menjadi terang dunia. Dalam Injil Matius, tertulis wejangan agung dari Sang Guru Kehidupan:

"Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Lagi pula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian, sehingga menerangi semua orang di dalam rumah. Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di hadapan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga." ~ (Matius 5:14-16)

Mbah Karto tidak menyimpan "pelitanya" di bawah gantang. Ia meletakkannya di atas kaki dian kehidupan: di jalanan yang ia sapu, di selokan yang ia bersihkan, di becak tua yang ia kayuh untuk mengantar orang sakit. Ia menjadi terang, bukan dengan kata-kata, melainkan dengan perbuatan yang baik.

Santo Yakobus menegaskan:

"Apakah gunanya, saudara-saudaraku, jika seorang mengatakan bahwa ia memiliki iman, tetapi ia tidak memiliki perbuatan? Dapatkah iman itu menyelamatkan dia?" ~ (Yakobus 2:14)

Iman Mbah Karto bukan iman di atas kertas. Bukan iman yang hanya diucapkan dalam doa. Tapi iman yang berkeringat. Iman yang mengayuh becak. Iman yang menyapu jalan.

Dan Yesus sendiri mengingatkan bahwa setiap perbuatan baik sekecil apapun yang kita lakukan untuk sesama yang paling hina, kita lakukan untuk Dia:

"Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku." ~ (Matius 25:40)

Ketika Mbah Karto menyuapi Dika yang sakit, ketika ia membersihkan selokan agar kampung tak banjir, ketika ia menolak bayaran dari Bu Surti di saat itulah ia sedang melayani Kristus sendiri. Tanpa ia sadari sepenuhnya, Mbah Karto telah menjadi sakramen hidup tanda kehadiran Allah yang nyata di tengah kampung kumuh di bantaran Kali Code.

🔥 Refleksi untuk Pembaca

Sahabat yang budiman,

Kita hidup di zaman yang aneh: makin banyak lampu LED, makin banyak kota yang terang benderang, tapi makin gelap hati manusia. Kita sibuk menerangi jalan-jalan tol, tapi lupa menerangi jiwa-jiwa yang lewat di atasnya.

"Urip Iku Urup" adalah panggilan eksistensial: hidupmu harus menjadi cahaya. Bukan cahaya yang menyilaukan untuk mencari pujian. Tapi cahaya yang hangat, yang membuat orang lain bisa menemukan jalan pulang.

Mbah Karto mengajarkan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti berbuat baik. Ia tak punya listrik, tapi ia menjadi listrik bagi orang-orang di sekitarnya. Ia tak bisa membaca Alkitab, tapi ia menghidupi Alkitab.

Malam ini, sebelum tidur, cobalah bertanya pada diri sendiri:

Sudahkah aku menjadi terang hari ini? Atau jangan-jangan, aku justru menjadi bayangan gelap yang membuat orang lain tersandung?

Jika kita tak bisa menjadi lampu yang besar, jadilah lilin kecil. Jika kita tak bisa menjadi mercusuar, jadilah kunang-kunang. Karena dalam gelapnya dunia, secercah cahaya apa pun, akan sangat berarti.

Seperti yang tertulis:

"Karena Allah yang telah berfirman: 'Dari dalam gelap akan terbit terang!' Ia juga yang membuat terang-Nya bercahaya di dalam hati kita, supaya kita beroleh terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang nampak pada wajah Kristus." ~ (2 Korintus 4:6)

🙏 Doa Penutup

Dhuh Gusti Yesus Kristus, Pepadhang Sejati jagad raya...

Ajarilah kami menjadi seperti Mbah Karto. Ajarilah kami untuk urup bercahaya tanpa takut diri kami sendiri terbakar.

Jadikanlah tangan-tangan kami yang lemah ini sebagai alat untuk menyapu kesedihan sesama. Jadikanlah kaki-kaki kami yang letih ini sebagai kendaraan untuk mengantar mereka yang membutuhkan pertolongan.

Dan ketika akhirnya pelita hidup kami mulai redup, sambutlah kami dalam cahaya-Mu yang abadi. Amin.

"Urip Iku Urup."

Hiduplah menjadi nyala. Bukan untuk dilihat, tapi untuk menerangi.

Matur nuwun. Rahayu.

Yohanes Rifai Alwan

Posting Komentar